Belajar Menghadapi Ujian dari Pak Dedi Penjual Ikan Hias

  • Whatsapp

Sepeda tuanya dituntun secara perlahan. Teriknya matahari di daerah Bekasi Barat tidak menyurutkan semangatnya untuk mencari rezeki. Sebuah rak kayu ditempatkan di bagian belakang sepedanya. Beberapa plastik berisi air dan ikan hias diikat dengan kencang di rak kayu tersebut. Sesekali plastik berisi ikan itu bergerak seirama dengan guncangan sepeda tuanya.

Siapa Sosok Pak Dedi?

Pria yang menuntun sepeda tua tersebut terlihat sudah sepuh. Beliau biasa dipanggil Pak Dedi. Usianya sudah melewati 70 tahun namun semangat mudanya masih berkobar dalam dirinya. Tidak ada kata menyerah meskipun kekuatan fisiknya sudah sangat terbatas di usianya sekarang.

Read More

Pak Dedi berkeliling dengan sepeda tuanya menawarkan barang dagangannya, yaitu ikan hias. Setiap harinya, jalanan yang menanjak dan menurun di daerah sekitar Bekasi Barat beliau lewati untuk mencari pembeli.

Pagi hari sebelum memulai berjualan, Pak Dedi terlebih dahulu mengambil ikan hias yang akan dijualnya di tempat budidaya ikan hias. Tempat tersebut ada di daerah Cakung Pahyangan. Untuk menuju ke sana, Pak Dedi naik ojek dan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp30ribu.

Dari pekerjaannya ini, Pak Dedi bisa membawa pulang penghasilan kurang lebih Rp60ribu setiap harinya. Penghasilannya ini digunakan untuk makan sehari-hari dirinya dan membayar sewa kontrakan seharga Rp500ribu per bulannya.

Pak Dedi tinggal seorang diri di kontrakannya yang mungil di daerah Kampung Raden, Jalan Camar Bekasi Barat. Beliau tidak memiliki anak. Istrinya sudah meninggal saat melahirkan anak mereka yang juga ikut meninggal dunia.

Rasa cintanya kepada sang istri membuatnya hidup seorang diri hingga kini. Rasa cinta itu pula yang membuat fisiknya tidak sempurna. Saat istrinya sedang hamil, sang istri ngidam belut. Berangkatlah Pak Dedi mencari belut di sungai dengan berbekal obor.

Kejadian buruk menimpa Pak Dedi saat itu. Tak sengaja, sebuah kaleng berisi 5Kg tiner terbakar dan mengenai kedua tangan Pak Dedi. Karena kejadian tersebut, beliau harus rela kehilangan empat jari masing-masing di tangan kanan dan kirinya. Kedua tangannya kini hanya tersisa jari jempolnya saja.

Meskipun hidup seorang diri, Pak Dedi tidak pernah merasa sendiri. Ada Allah yang selalu bersamanya dan menjaga hidupnya. Hidup Pak Dedi memang tidak mudah. Namun beliau selalu percaya Allah akan menolongnya.

Untuk itu, beliau senantiasa menjaga shalatnya. Di tengah kesibukannya mencari nafkah untuk kehidupannya sehari-hari, beliau tidak pernah meninggalkan shalat. Beliau juga berpegang teguh pada prinsip hidupnya, yaitu Doa, Usaha, Ikhlas, dan Tenang. Prinsip ini disebutnya dengan prinsip DUIT.

Penghasilan Pak Dedi memang tidak seberapa. Namun beliau selalu menyisihkan sebagian rezekinya untuk dibagikan kepada anak yatim. Kekurangan tidak menjadikan Pak Dedi enggan untuk membagikan sedikit yang dimilikinya karena beliau percaya dengan kuasa Allah.

Kebaikan untuk Pak Dedi

Kita juga bisa meniru kebiasaan baik yang biasa dilakukan oleh Pak Dedi. Sedikit rezeki yang kita miliki bisa kita bagikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Kontribusi tersebut bisa kita lakukan dengan cara menjadi anggota Produk Asuransi Syariah dari Allianz.

Kenapa harus Allianz? Karena Allianz sebagai salah satu perusahaan Asuransi Syariah Indonesia terbaik memiliki program #AwaliDenganKebaikan yang mengajak kita sebagai anggota produk asuransinya untuk menyisihkan sebagian rezeki yang kita miliki. Kita bisa menyisihkan sebagian rizki tersebut dengan memilih salah satu produknya atau dengan memanfaatkan fitur wakaf yang ada.

Dengan cara ini, produk asuransi yang kita miliki tidak hanya memberi manfaat perlindungan untuk diri sendiri dan keluarga, namun juga mampu memberikan manfaat yang lebih untuk orang-orang di sekitar yang lebih membutuhkan, seperti Pak Dedi penjual ikan hias di Bekasi Barat.

 

Sumber:

http://ketimbangngemisjakarta.or.id/keterbatasan-fisik-bukan-penghalang-bapak-dedi-mencari-rezeki/

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *